Saturday, October 24, 2020

About Language


Bersih-bersih debu blog.

Mari menulis lagi disini. 😜

Belakangan ini gue banyak belajar sebuah bahasa. Sebetulnya sudah lama gue mempelajarinya, cuma sekarang saat yang dirasa pas untuk mengulang. Ambil sertifikasinya kalau kondisi memungkinkan.

Gue kalau ingin menguasai sesuatu nggak nanggung-nanggung. Semua tools dan media yang bisa mendukung gue untuk kearah sana akan dipakai. Semua film, TV seri, buku panduan belajar, buku cerita, dipelajari semua. Bahkan gue juga menulis dengan bahasa tersebut, sampai berkomunikasi dengan native

Sisi bagusnya, gue jadi bisa memperluas lingkup pergaulan dari yang selama ini circle lokal dan cara berpikir yang sudah ada. Kemudian bisa cekikikan juga kalau saat ngobrol dengan native ngerasa oh ternyata di negara lo juga ada kasus gitu, ya. Ah. Ternyata manusia dimana-mana sama saja 😛

Mungkin ini hanya bisa dimengerti oleh orang yang sudah sering mencicipi berbagai bahasa (walau mencicipi saja, ya), bahwa cara berpikir kita itu bisa berubah setelah switch bahasa.

Gue kalau belajar bahasa X rasanya cara berpikir gue jadi lebih tertata dan intelek, bahasa Y membuat gue jadi kepingin bikin puisi yang banyak, bahasa Z jadi relijius, bahasa A jadi terlatih membolak-balik tatanan (karena strukturnya beda). 😆

Ah, pokoknya lucu-lucu rasanya. Itu sebabnya gue suka belajar bahasa.😃

Fungsi bahasa asing bukan sekedar bisik-bisik supaya orang lain yang kita "keluarkan dari circle" nggak ngerti kita ngomong apa. 😑

Iya, gue sering ngeliat kejadian yang begini. Jadi sudah tahu di sebuah acara kumpul-kumpul ada orang yang nggak bisa sebuah bahasa, tetap saja ada yang nekad pakai bahasa itu. 

Menurut gue it's not nice. Membuat orang lain merasa nggak nyaman dan disendirikan karena dia nggak ngerti sekelilingnya ngomong apa.😟

Orang bule yang gue kenal pernah merasa kesal dibegitukan. Buat mereka itu nggak sopan. Gue setuju banget, sih. Bahasa bukan digunakan sebagai senjata untuk mengucilkan orang lain. Fungsinya jelas sarana komunikasi.

Kalau ada yang begitu biasanya gue bantu terjemahin, agar orangnya ngerti. Tapi mungkin gue salah, seharusnya gue negur juga yang ngomong. 😓Supaya semua yang hadir bisa belajar. Mau dituruti atau nggak ya biarkan saja. Yang penting orang dapat masukan baru, bahwa hal tersebut belum tentu nyaman buat semua orang.😔

Tentu saja kasusnya beda kalau itu semacam ikut konferensi internasional, atau acara-acara yang memang sudah code nya untuk ngomong bahasa asing. Jelas kandidat yang hadir harus mengikuti kriteria. Kemudian berlaku juga bila kita ada di sebuah negara, yang semua orang hanya ngerti bahasa itu, artinya kita yang kudu menyesuaikan diri.😐

Acara pergaulan biasa, sih, tujuannya jelas, untuk membuat semua orang merasa diterima. Bila bisa pakai bahasa yang semua orang tanpa kecuali ngerti, kenapa pakai bahasa lain?😕

So, kembali ke fungsi kita menguasai suatu bahasa sebetulnya buat apa.  Bukan begitu...😀

Belajar bahasa itu memang serunya di awal-awal karena masih euforia. 

Mulai masuk intermediate dan advance mulai kusut, deh. Disana persistensi kita akan diuji. Gue selalu merasakan step-step semacam itu. Step yang paling advance tentu saja kalau sudah bisa bicara dengan native dengan bahasa yang bersangkutan secara effortless. Cara yang paling cepat, terjun langsung ke negara dimana bahasa itu berasal! Gue baru beruntung mencicipi sedikit negara saja dari sekian bahasa yang gue pelajarin...😍

Ohya. Ada lagi, sih, bahasa yang kayaknya wajib dikuasai umat manusia sedunia di hari gini...

Bahasa komputer. Hahaha...😆

Gambar diambil dari pixabay.com

Share:

11 comments:

  1. wiw kayanya kakak sudah menguasai banyak bahasa nih! Apalagi sempet terjun langsung ke negara asal bahasanya! Aku masih kesulitan buat ngomong. Bahkan dalam bahasa inggris sekalipun suka kagok aja gitu HAHAHA Ya karena ga sering sih ngomong pakai Inggris. Jadi kurang terlatih hehee

    Setuju banget sama pendapat kakak, dalam belajar bahasa saat fase intermediate dan advance tuh mulai kusut dan mulai kendor deh belajarnya. Kaya kehilangkan tujuan awal belajar bahasa itu. HAHAHA

    ReplyDelete
  2. Masih terus belajar kak Frisca...bahasa kalau nggak dilatih atau ada lawan bicara bisa menguap.
    Banyak-banyak cari partner bicara atau biasain berpikir dalam bahasa yg dimaksud-->saran.
    Oh iya semakin naik level makin diuji keteguhan kita hahaha


    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul bisa nguap ya kalo ga sering-sering dipakai. Nah buat cari partner bicara agak susah gituuu. Jadi ya berjuang sendiri aja dah

      Delete
    2. Bisa gunakan aplikasi yg memang cari partner bicara bahasa atau ngobrol sama blogger asing

      Delete
    3. Banyak ada HiNative, Tandem, coba googling saja kak

      Delete
    4. Wokee makasih infonya! ^^

      Delete
  3. Saya bahkan sudah lupa dengan bahasa cinta. Bhahahha.

    ReplyDelete
  4. Bahasa menurut aku emang menarik, kalau nemu beberapa kata yang agak mirip atau beberapa struktur atau konsep yang menarik, kalau punya kesempatan dan waktu pengen juga rasanya belajar banyak bahasa kak. Selama ini bahasa Inggris aja, itupun masih agak kagok bahkan buat keluar secara campur sari ala anak Jaksel. Bahasa Korea pun cuma otodidak, paling ngerti kalo ada orang ngomong, tapi gak bisa nimpalin wkwkwkw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Rere, bahasa itu menariiik....cuma kalau sekedar teori struktur saat praktek gelagapan..paling bagus mencoba cara bicara di cermin..
      Wah kereen bisa bahasa Korea...

      Delete