Belakangan ini seliweran terus di media sosial. 

Layangan putus. 

"It's my dream, mas. Not her."

Ada yang menanggapinya dengan serius, sebal, dan ada yang lucu-lucuan.

Sebetulnya tayangan drama percintaan bertema seperti itu banyak. Tapi mungkin momen peluncurannya pas. Yaitu ketika banyak "trust issue" disebarkan dalam hubungan dengan laki-laki.

Yang menarik, di banyak bahasan di tempat kerja, cewek-cewek single jadi takut nikah dan punya pasangan gara-gara fenomena ini. Punya kecemasan yang panjang dan belum jelas arahnya. Padahal sumbernya cuma satu dan sederhana. Dari paparan informasi negatif yang kebanyakan! πŸ˜†

Hari gini apa, sih sumber berita dan info kalau bukan dari internet. Terutama medsos? 😐

Medsos sering jadi tempat sampah online bagi yang tidak menemukan itu di RL (Real Life). Saking banyaknya sambat dan curhat, selama 24 jam, mungkin melebihi sesi konseling normal dengan ahlinya di RS.πŸ˜… Dampak negatif menjadikan medsos sarana sambat luas banget. Mereka yang curhat  mungkin tidak sadar, banyak orang yang kena trigger dan terdampak oleh ceritanya. Sama seperti kasus tetangga buang sampah sembarangan di samping rumah. Dianya lega dan bebas, kita yang terjebak bau. 

Padahal Layangan Putus itu cuma film, yang genrenya seputar keluarga, not heart -warming, but a broken one. Jadi wajar saja sampai ada drama pertengkaran, bagaimana mimpinya adalah ke Kelapa Dua Cappadocia (gue ini sampai googling, loh tempatnya πŸ˜‚). 

Dari sekian banyak meme nemu yang patriotik. Vibe-nya! πŸ‘Œ (sumber : twitter)

Yang gue aware disini setiap nonton drama rumah tangga sejenis, apa pesan yang ingin ditangkap? Bahwa menikah itu semengerikan itu kah. Kalau bukan itu yang ditangkap, kenapa saat membahas cerita ini banyak yang semakin takut, ya?πŸ˜‘

Sebetulnya antidote dari tontonan yang bikin sebal dan gloomy itu simpel. Cari saja cerita cinta yang heart warming, uwu, atau apa sajalah. Bila terus menerus nonton drama yang menggambarkan bagaimana catasthrope-nya pernikahan, betapa menyebalkannya cowok. Cepat atau lambat itu akan terbawa di kehidupan nyata, menganggu semua relationship yang sedang dibangun.

Gue sendiri nggak menonton Layangan Putus lebih lanjut karena memang itu bukan genre yang gue suka.  Cukup tahulah.πŸ˜…

Kalau boleh pilih, di masa pandemi ini, gue lebih senang genre romance yang komedi dan light. Vibe-nya lebih fun dan positif. Sudah pusing karena pandemi, buat apa juga. 😁

Yang lebih penting, paparan yang fun dan positif itu akhirnya akan memberikan harapan. Harapan bahwa masih ada banyak orang baik di luar sana. Tinggal seseorang yang harus memantaskan diri dan membayangkan bagaimana kehidupan yang dia mau. Dengan pasangan yang seperti apa. Selama ada rasa percaya akan itu dan merasa pantas (tahu apa saja kekuatan diri sendiri punya self-worth). 😁


Every relationship is worth a risk. Orang hidup memang selalu ada resiko. Tapi yang namanya penjara itu  akan selalu ada dua macam : yang diciptakan oleh manusia dan yang diciptakan oleh diri sendiri. 

Dengan memelihara ketakutan, sebetulnya seseorang sudah terpenjara, tanpa harus dipenjarakan. Nah. Kalau sampai mati dalam penjara yang diciptakan sendiri,  kedengarannya sangat aneh, ya.πŸ˜… Intinya rugi banget gara-gara satu dua kasus buruk (di film pula πŸ˜‚), jadi menghapus harapan pada hadirnya mereka yang layak di luar sana. 

*Asal harapannya jangan kegedean aja, ya. Misal, macam Gong Yoo....πŸ˜‚*

The worst punishment ever, sayangnya, seringkali datang dari diri sendiri. Sama seperti metafora layangan putus yang hanya bisa memilih terbang tanpa akhir, sampai akhirnya terjatuh. Btw. gue lebih senang kalau judulnya bukan layangan tapi balon udara dari Cappadocia. Sounds fun. Bisa di naik dan turunkan sesuka kita.😁

Kalian suka nonton drama percintaan yang bikin sebal atau drama yang menyenangkan? Apakah itu lama-kelamaan berdampak pada cara kalian melihat lawan jenis?

Gambar diambil dari pixabay



8 Comments

  1. Layangan Putus dan meme ini belakangan berseliweran di IGku juga, baru tau ternyata itu judul web series dan scene tersebut jadi iconic yaa, hahahaha.

    Duh, setuju banget yang kamu bilang soal paparan informasi (negatif) yang terlalu banyak. Dan soal hubungan worth a risk that's true. Apa tujuan dari sebuah hubungan kalau bukan ingin sama-sama bertumbuh sebagai individu, ya kan? Itu juga yang jadi alasan kami untuk menikah, untuk bisa bertumbuh jadi sosok yang lebih baik lagi.

    Soal pilihan tontonan, aku juga gitu, sih. Intinya, kalau lagi dalam keadaan yang nggak baik, nggak usah menjebloskan diri untuk konsumsi hal-hal yang makin bikin bad mood. That's why I don't listen to sad songs to di saat sedih, yang ada makin jadi-jadi 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya iconic kak. Aslinya berawal dari curhat online kisah nyata penulis novelnya yg sempat viral. Tapi yang ditulis ini tampaknya fiksi.

      Imbang-imbang yang terbaik ya kak. Nonton jangan yang broken heart atau yang terlalu manis. Both side of the story. Salah satu yang bagus menurutku film Marriage story. πŸ˜„

      Delete
  2. Not kind of my Movie... πŸ˜„ Tapi Meme'nya lucu. Karena meme itu aku smpet cari di youtube buat lihat scenenya.. Ternyata "Ohh, cowoknya ketahuan berselingkuh ya" haha

    Nggak tahu kenapa aku kurang suka drama percintaan.. ehh ya suka sih, tapi nggak terlalu.. Apalagi Sinetron Indonesia.. hahah πŸ˜… Saolnya konfliknya begitu-begitu mulu. kalau nggak rebutan suami, harta, anaknya tertukar, atau anaknya sakit... Atau Miskin jatuh cinta sama si Kaya.. 😬 makanya aku jadi punya pikiran sebenrnya Gap diantara kita itu muncul ya karena andil perfilman Indonesia.. Iya Nggak sih?? apa aku mikirnya yang kejauahn.. 😁

    Kalau tontonannku lebih ke 1. Kartun.. 2. Sihir2 atau fantasi begitu.. 3. Marvel.. udah sih itu aja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya kak. Memenya bertebaran dimana-mana makin lucu.

      Gap muncul karena banyak faktor, kesenjangan pendidikan dan sosial. Makanya tema-tema itu yang laku,kak. Kalau selera publik beragam dan makin tinggi, produser mungkin nggak bakal bikin tema yang itu-itu saja (formula laku). Jadi demand dan supply gitu.

      Kak Bayu imajinasinya tinggi ya. Seru memang nonton film-film yang memanjakan imajinasi.πŸ˜€

      Delete
  3. Tosss mba, akupun ga bakal nonton serial yg bertema selingkuh. Ga tertarik, dan cuma bikin emosi pas nonton hahahahha. Masalahnya aku tipe yg kalo nonton itu mudah banget baper. Makanya serial yg aku tonton hanya yg genre thriller, action,komedian atau romance yg happy ending. Selain itu bhaaay πŸ˜….

    Tapiiiiii suamiku nonton ini layangan putus. Kadang aku kepikiran sih, sbnrnya yang cewe itu aku atau dia wkwkwkwkwkw . Maksa juga tuh supaya aku ikutan nonton. Yg dengan senang hati LGS aku reject 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bikin emosi ya. Kalau aku malah suka ketiduran kak. Parah ya.πŸ˜†Terlalu sering nonton film yang adrenalin mungkin πŸ˜…

      Selera kita sepertinya sama. Romance suka yang komedi.
      Hahaha kebayang kak suaminya yang nonton Layangan putus istri nonton film Stephen King.

      Delete
  4. Layangan putus judul yang menarik, artikelnya sangat kren

    ReplyDelete