Whoaa...it's been a loong time!πŸ˜€

Alasan gue jarang update di blog ini, jujurly tontonan gue belakangan ini nggak terlalu banyak. Jadi harus rekap dulu dari sekian bulan yang panjang. Hahaha. Selain itu banyak yang gue lakukan di dunia offline, untuk bagian leisurenya kebanyakan yang berhubungan dengan olah raga dan jalan-jalan. Tapi berhubung belum jadi travel blog tentu saja gue skip tema itu dulu.😁 

Ok. Sekarang bikin random post saja. 😌

Mungkin kalian yang membaca review-review gue disini menganggap, widih, Noa ini kerjanya pasti nonton melulu.  

Nggak gitu juga. πŸ˜‚

Gue orangnya random. Kalau pengin nonton, ya nonton, kalau nggak, beredar...

Karena satu hal yang gue hindari benar, adalah living in my own world.

Itu sebabnya kegiatan sampai tontonan gue bervariasi.  Dalam hal tontonan atau bacaan tidak terlalu fanatik atau homogen, misal, korea semua, jepang semua, anime semua dan sejenisnya. Gampang bosan juga.πŸ˜„ 

Gue tahu bahayanya terlalu banyak berfantasi atau punya kegemaran homogen. Yang terjadi, gue bakal merasa hidup di dunia gue sendiri, yang tidak seorangpun (kecuali penggemar serupa) paham. Orang di luar dunia gue, di titik ekstrim akan gue anggap seperti muggle - begitu istilah populer dalam Harry Potter.  πŸ™…

Buat gue hiburan, fantasi, untuk refreshing OK, misal, sesekali ikutan menonton cosplay Star Wars. Kadang gue juga menggoda kawan yang masih suka hal itu. Tapi, ya, sudah begitu saja. Gue nggak mengeluarkan modal besar untuk yang demikian, baik secara materi ataupun waktu. Nggak ada posnya juga, sikπŸ˜…


Kadang masih seru juga nonton cosplay dan karnaval....(gambar : pixabay)

Gara-gara itu konsekuensinya ada momen gue suka "nggak nyambung", terutama jika berada di antara kawan yang gue nggak mungkin masuk sepenuhnya ke dunia mereka karena....ya memang mereka punya dunia sendiri. Let them be. I won't come too close. Cukup paham saja. I wish them well. I really do. Bukan retorika.πŸ™‚

Menolak masuk terlalu dalam ke alam fiksi dan fantasi, ataupun terpengaruh oleh lingkungannya, bukan berarti karena gue merasa jadi grown ups atau adult. Itu adalah hal yang sangat berbeda, saat engkau memutuskan hidup di dunia imajinasi. Namanya bukan refreshing lagi. Seringkali kasus-kasus yang gue lihat, tujuannya bukan menemukan hiburan tapi lari dari realita. Atau permasalahan.

Padahal permasalahan ada untuk dihadapi dan dipecahkan. Nah, gue nggak ingin, secara sadar atau enggak sadar, jadi seperti itu.πŸ˜‘

Di dunia nyata, gue beruntung dikelilingi oleh orang-orang, yang selain down to earth, mereka jarang ngefans sama suatu hiburan sampai banget. Rata-rata lebih menggemari jalan-jalan dan kegiatan outdoor. Dijamin kalau terlalu berkhayal, bakal sontak dikembalikan ke realita-kalau nggak kecemplung sungai.πŸ˜‚

Kegiatan outdoor is the best (gambar : pixabay)

Menurut gue ini lingkungan paling aman, bagi yang punya kecenderungan sampai masuk ke awang-awang fantasinya. Membuat seseorang terpacu terus untuk menyesuaikan diri dengan macam-macam kelompok dalam masyarakat, bukan menutup diri hingga tua, seperti seorang hikkimori. Ujung-ujungnya, jadi lebih solutif dalam menemukan dan memecahkan berbagai problem. 

Ya, iyalah karena memang masalahnya dihadapi dan di selesaikan terus'kan.πŸ˜‚

Apalagi sekarang ini, di masa pandemi, isolasi sosial menjadi masalah serius. Yang punya kecenderungan introvert atau menarik diri semakin parah interaksi sosialnya.

Jadi menurut gue ini adalah hal baik yang bisa gue share, bila ada gejala ingin hidup di dunia sendiri...step yang bisa digunakan buat introverts sekali pun :

Keluar dari lingkaran imajinasi dan comfort zone, kalau perlu banyak olah raga sekalian supaya bisa menggantikan hal nyaman yang dihadirkan oleh tontonan atau bacaan. Lempar saja itu yang namanya buku atau layar ke laut.  Eh ini kiasan yaks, jangan beneran. Sayang atuh.πŸ˜‚


Isolasi sosial di era pandemi yang tanpa sadar memperparah (gambar : pixabay.com)

Manusia nggak mungkin jadi open minded bila hanya membaca terlalu banyak buku atau terpapar layar. Bagi gue, pikiran terbuka hanya mungkin terjadi dalam praktek dunia nyata, saat seseorang bisa mulai memahami cara berpikir antar manusia satu sama lain.πŸ™„Menciptakan lebih banyak hubungan yang sehat-ketimbang permusuhan. Bisa melihat diri sendiri dan dunia dalam kacamata yang lebih baik dan positif.πŸ˜„ Asal jangan jatuhnya jadi narsis, ya. πŸ˜…

Apakah kamu sering hidup di duniamu sendiri? Kenapa merasa nyaman disana?πŸ˜‰


Gambar fitur : pixabay.com

4 Comments

  1. Baca judul blogpost kamu aku auto nyanyi Start of Something New HSM XD

    Aku termasuk yang (terlalu) nyaman di dunia sendiri. Nggak tau apa karena aku introver atau memang pada dasarnya aku jarang menantang diri sendiri melakukan hal-hal di luar zona nyamanku. Lucunya, bulan Juni kemarin aku malah spontan melakukan beberapa hal yang sebelumnya ditakuti. Setelah bisa menghadapinya, rasanya bangga dan jauh lebih percaya diri, hahaha.

    Makasih yaa udah sharing tentang ini <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Seru mengerjakan hal-hal spontan yang direncanakan ya. ^^

      Delete
  2. Kayaknya kalo sampe masuk dan terlalu nyaman di dunia sendiri, ga segitunya sih kalo aku mba. Aku ga bisa terlalu suka atau ngefans atau cinta mati Ama artis, fantasy atau sejenisnya. Makanya kadang takjub Ama temen2 yg cinta mati Ama aktor pujaannya, bahkan sampe nangis, bisa tahu segala sesuatunya sampe kehidupan pribadi si aktor, berarti kan dia bener2 mengikuti dan mungkin masuk bgt ke dunia si aktor 😁. Aku ga bisa kayak gitu mba, dan ga kepengin juga. Yg biasa ajalah .

    Mungkin kalopun suka Ama sesuatu, aku cuma ada passion di dunia traveling. Tapi menurutku kalo itu mah ga bakal sampe punya dunia sendiri yaaa. Itu doang sih yg bikin aku selalu ngerasa happy banget banget, kalo sedang traveling πŸ˜„. Langsung ngerasa hidup gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keuntungan banyak kegiatan outdoor alias traveling jadi banyak melihat real life. Nggak sampai jadi jatuh ekstrim. Asal jgn kebanyakan travel saja ya kak yg nanti dompet jadi ekstrim tipis..πŸ˜…

      Delete